INTRO NLP : Wondering about general link between NLP and Psychology

 

Just My Opinion – Welcome for discuss and critics – by Mayasari Hugeng March 2014

Pertamakali mendengar kata NLP, yang terlintas dalam benak saya pribadi adalah mungkin ilmu yang mempelajari tentang hubungan kesatuan antara biologis dan pikiran bahkan psikis atau perasaan. Ada lagi sih pikiran skeptis saya tentang NLP sebagai orang yang hidup di lingkungan akademisi psikologi, yaaahh.. sempat terlintas bahwa NLP adalah ilmu kecebret kosong alias marketing untuk membuat orang lain tertarik. Setelah medapatkan penjelasan lebih lanjut mengenai NLP yang setidaknya terdiri dari Neuro Linguistic Programming, ternyata saya mendapatkan sebuah kesimpulan baru, bahwa NLP menggunakan bahasa yang dapat diterima oleh saraf-saraf dalam tubuh kita dalam mengelola informasi yang berujung pada tindakan apa yang akan kita tampilkan dilingkungan. Bahasa tidak sekedar hanya diucapkan, namun memiliki banyak cara penyampaian bahasa untuk menyesuaikan dengan program atau jalan pikiran masing-masing orang. Pikiran yang dimaksud dapat dimulai dari pikiran bawah sadar seseorang sampai menaikkannya sebagai sebuah pikiran otomatis yang langsung muncul pada perilaku. Dalam memahami pikiran orang lain, dibutuhkan sensory acuity, melatih seluruh indra dalam diri untuk menganalisa apa yang sedang terjadi, supaya tidak ada ada informasi yang terlewatkan.

Dengan secuplik pengertian diatas, berarti NLP dapat digunakan untuk banyak hal antara lain marketing-selling, konseling, terapi fobia, stress, depresi, membangun relasi, public speaking, dalam hal akademik, mind-set management. Wow! Banyak juga ya manfaatnya.. nampaknya jika dilihat-lihat ada yang sejalan dengan pekerjaan psikolog atau praktisi psikologi nih.. Saya mencoba melihat kembali dimana kesamaannya. Ternyata NLP sendiri berasal mula dari modelling oleh ahli linguistic (ahli bahasa) yang bernama John Grinder dan Richard Bandler seorang ahli matematika computer, mereka memodel para ahli : gestalt therapy, family therapy, filsuf-antropolog, yang pada akhirnya mendapatkan pola-pola bahasa yang logis dan efektif dalam pemberian terapi. Akhirnya hal ini terus berkembang dan salah satu yang rajin mempraktekannya adalah Anthony Robins, yang terkenal sebagai praktisi NLP yang aplikatif pada permasalahan sehari-hari, dan membuat ilmu NLP semakin dikenal banyak orang. Jadi.. jika dilihat-lihat maka awalnya berasal dari jenis-jenis terapi yang nampaknya juga diajarkan secara resmi di pendidikan formal psikologi.

Psikologi adalah sebuah ilmu yang mempelajari perilaku manusia. Bagi orang yang mempelajari dan kuliah di bidang psikologi, maka observasi dan interview menjadi salah satu hal yang harus terus diasah. Seorang psikolog harus bisa menjadikan diri sebagai alat asesmen untuk scanning permasalahan, lingkungan hidup dan perilaku orang lain, tentu saja hal ini juga akan dapat dibuktikan kebenaran reabilitasnya dengan menggunakan alat tes psikologi lain yang sudah valid dan reliable yang disesuaikan dengan kebutuhan klien. Yup betul sekali, bisa jadi perbedaan mendasarnya ada di sini! Pada alat tes yang reliabel dan valid. Ada satu lagi perbedaan yang saya temukan, kami di psikologi terbiasa mempelajari standar-standar teori bagaimana kepribadian orang terbentuk, mulai dari tahap perkembangan moral, seksual, kognitif, perilaku dan masih banyak hal kompleks lainnya. Kami juga lebih mendalami bagaimana mendiagnosa gangguan kejiwaan dengan standard baku yang harus terpenuhi, yang mungkin di NLP ataupun saudara NLP yaitu hypnotherapy kurang dibahas lebih kompleks dan mendalam karena langsung menuju ke outcome.

Saya yang pernah belajar ilmu psikologi, menjadi sedikit bertanya-tanya, jika demikian, mengapa NLP di Indonesia masih di anggap sebagai pseudoscience atau sebuah ilmu yang belum dapat dibuktikan kebenarannya? Apakah mungkin karena banyak praktisi yang murni belajar secara otodidak khusus NLP dan semacamnya dan tidak belatar belakang psikologi hanya sekedar mengandalkan praktek dan jam terbang untuk membuat modul, menerbitkan buku ataupun membuat pengajaran? Setelah mencari informasi, ternyata jawabannya ya bisa jadi! Jika kita memandangnya dari sudut pandang ilmu pengetahuan yang empiris dan baku. Sekedar informasi, apabila seorang ahli meneliti sesuatu dan ingin mendapatkan pengakuan ilmiah resmi, maka ia disarankan untuk menulis artikel dalam jurnal ilmiah yang diakui secara internasional. Mengapa? Karena dalam untuk dapat tampil dalam jurnal ilmiah level internasional akan dilakukan seleksi terlebih dahulu oleh kemungkinan lebih dari lima blind reviewer yang terdiri dari para ahli sesuai tulisannya. Tugas blind reviewer adalah meneliti dan mengkritisi tulisan yang telah ditulis sebelum di muat di jurnal ilmiah. Sedangkan jika membuat sebuah buku, belum tentu direview oleh banyak reviewer yang ahli dibidangnya.

Yah… tak di pungkiri di jaman sekarang ini, gaya hidup masyarakat tergolong instan atau cepat. Tidak peduli apapun masalahnya, jika butuh bantuan biasanya kecenderungan untuk ingin segera terpenuhi. Jadi kesimpulan saya dari perkenalan pertama dengan NLP, don’t focus to much about empirical science, just focus to outcome. Selama hasilnya bisa membantu dan terbukti, berarti bisa digunakan untuk melengkapi kemampuan kita untuk menolong diri sendiri dan orang lain untuk maju dan berkembang. Banyak jalan menuju Roma bro… Merdeka!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s