OKUPASI TERAPI

Weww.. saya gak ngeh saat awalnya di jelaskan tentang hal ini terutama katanya terapi ini wajib untuk jasa layanan psikologi jika menangani kasus sakit JIWA alias GENDENG dan gak nyambung sama dunia.. atau gampangannya sih SIBUK SENDIRI dan gak bisa kerja atau gak melakukan aktivitas apapun.. selain bisanya cuman bengong… ketawa… mondar mandir tanpa tujuan.

PIKIR saya awalnya.. lah okupasi kan kerja? Lho.. emang ada yang mau nerima orang yang sakit untuk bekerja? Semua klo sakit mah ijin gak masuk kerja, karena gak konsen…

SAMPAI… akhirnyaa saya dapat kasus menemui klien jenis begini sungguan… JADI PRAKTEK DEH…

Pertama : SAYA PASTIKAN DULU secara literatur atau studi pustaka : APA SIH OKUPASI TERAPI?3cb2fa0e88f7e6b1df3f36b9e8405e88

Terapi adalah suatu penyembuhan atau usaha yang dapat dilakukan secara berkesinambungan untuk sebuah proses pengobatan suatu hal.

Okupasi (Occupational) adalah pekerjaan, aktivitas, kesibukan, jabatan.

Berdasarkan Peraturan Mentri Kesehatan RI No 23 tahun 2013 tentang “penyelenggaraan pekerjaan dan praktik okupasi terapis’ menyatakan bahwa beberapa hal yang saya rangkum:

  • Terapi okupasi adalah bentuk pelayanan kesehatan pada pasien/klien dengan kelainan fisik dan/atau mental yang mempunyai gangguan pada kinerja okupasional, dengan menggunakan aktivitas bermakna (okupasi) untuk mengoptimalkan kemandirian individu pada area aktivitas kehidupan sehari-hari, produktivitas dan pemanfaatan waktu luang
  • Aktivitas kehidupan sehari-hari meliputi : berhias, kebersihan mulut, mandi, BAB/BAK, berpakaian, makan, minum, kepatuhan minum obat, sosialisasi, komunikasi fungsional, mobilitas fungsional, ekspresi, dan seksual.
  • Produktivitas yang meliputi : pengelolaan rumah tangga, merawat orang lain, sekolah/belajar, dan aktivitas vokasional.
  • Pemanfaatan waktu luang yang meliputi : eksplorasi pemanfaatan waktu luang dan bermain/eksplorasi
  • Komponen gangguan kinerja okupasional: gangguan fungsi sensorik, persepsi, motorik, kognitif, interpersonal, dan spiritual.
  • SYARAT menjadi TERAPIS : lulus dari pendidikan okupasi terapis, memiliki Surat Tanda Registrasi Okupasi Terapis (STROT, minimal D3 Okupasi Terapi, sertifikat kompetensi), selama praktek pencatatan data wajib disimpan selama 5 tahun.
  • Area kewenangan tindakan penanganan gangguan untuk kelompok kasus : musculoskeletal, neuromuscular, kardiopulmonal, tumbuh kembang anak, gangguan mental, gangguan jiwa/psikososial, kasus terminal, ketergantungan NAPZA, geriatric.
  • Terapis dapat mendesain, membuat, dan memfungsikan alat bantu fungsional serta memodifikasi lingkungan sesuai kebutuhan pasien.

Ada yang disebut dengan Model of Human Occupation yang berasal dari mempelajari perilaku manusia yang terkait dengan peran alami dari sebuah aktivitas terhadap kesehatan dan penyakit. Kiehofner (1997) mengatakan ada 4 hal yang terasosiasi antara pekerjaan/aktivitas yang sehat dengan perubahan hidup dari ketidakmampuan atau penyakit, yaitu :

  • Motivasi untuk melakukan pekerjaan itu
  • Rutinitas pola dari suatu pekerjaan (kebiasaan/habituation)
  • Kemampuan/skill alami atau bakat dari suatu performa à memanfaatkan karakteristik individu
  • Pengaruh dari lingkungan terhadap kegiatan tersebut. (mempengaruhi input dan output)

Tahapan konsep dalam melakukan occupational therapy Ikiugu,M (2013)

Dapat dilihat ada 3 phase pada konsep diatas, dimulai dari tahap assessment mengetahui terlebih dahulu belief yang ada pada klien (menentukan permasalahan, mengdiagnosa berdasar teori) , lalu mendesain aktivitas (berdasar area yang perlu di sasar) yang dapat mengubah belief, mengevaluasi konsekuensi untuk melihat apakah sudah sesuai dengan tujuan awal (masih bisa disesuaikan dengan belief dan value klien dan lingkungan sekitarnya atau tidak).

Cara memilih sebuah okupasi/kegiatan perlu memperhatikan :

Apakah tindakan/program yang dirancang untuk mengembalikan kemampuan klien, mencegah terjadinya kecacatan, mempertahankan kemampuan yang dimiliki klien, ataupun untuk mengajarkan keterampilan yang baru pada klien.

Terapi okupasi dapat diberikan secara praktis berdasar penelitian sebelumnya dalam beberapa kasus:

  • Pada anak-anak kebutuhan khusus,Stroke,Fatigue syndrome
  • Seseorang yang kurang berfungsi dalam kehidupannya karena kesulitan-kesulitan yang dihadapi dalam mengintegrasikan perkembangan psikososialnya.
  • Kelainan tingkah laku yang terlibat dalam kesulitannya berkomunikasi dengan orang lain.
  • Tingkah laku yang tidak wajar dalam mengekspresikan perasaan atau kebutuhan yang primitif.
  • Ketidakmampuan menginterpretasikan rangsangan sehingga reaksi terhadap rangsangan tersebut tidak wajar.
  • Terhentinya seseorang dalam fase pertumbuhan tertentu atau seseorang yang mengalami kemunduran.
  • Seseorang yang lebih mudah mengekspresikan perasaannya melalui aktivitas daripada percakapan.
  • Seseorang yang merasa lebih mudah mempelajari sesuatu dengan cara mempraktekannya daripada membayangkannya.
  • Seseorang yang cacat tubuh yang mengalami gangguan dalam kepribadiannya.

Sumber :
Ikiugu,M.(2013). Instrumentalism in occupational therapy: An Argument for a pragmatic conceptual model of practice. The International Journal of Psychosocial Rehabilitation. Diunduh dari http://www.psychosocial.com/IJPR_8/Instrumentalism1.html

Kielhofner,G.(2013).Model Of Human Occupation.diunduh dari www.ergoterapeutem.no pada tanggal 3 September 2014.

PMK No.23 ttg pekerjaan dan praktek okupasi terapis.pdf. diunduh dari www.hukor.depkes.go.id. Diunduh pada tanggal 3 September 2014.

Terapi okupasi di unduh dari staff.uny.ac.id pada tanggal 3 September 2014.

KEDUA : SAATNYA PRAKTEK!!!
Saya share salah satu yang pernah saya tangani ya… akhir tahun 2014.. Dia sudah beberapa kali masuk dan berobat di sebuah rumah sakit untuk kondisi kejiwaan yang katanya suka mengamuk, merasa terancam, dan punya identitas diri yang diyakini yang tidak sebenarnya alias waham. Wahamnya : punya kerjaan sebagai aparat Negara dan membela bangsa dan bertugas di luar kota. Ia bekerja namun tidak rutin karena orang pun takut padanya. Padahal lumayan pintar lho dari hasil tes IQ. Lalu di rumah gak jelas mandi atau nggak, yang pasti gak minum obat karena gak merasa sakit, kemudian juga merasa dokter itu mengancam dan mengada – ada. Keyakinan tentang agama yang dianut tidak jelas.

Akhirnya.. dengan model terapi okupasi hasilnyaaaa :

  • Mandi rajin, kuku bersih, rapi.
  • Minum obat rutin tanpa di paksa dan disuru demi bisa bekerja.
  • Bisa mengantar orang tua dan menyuapi ibu sakit dan menemani ayah, tanpa mengeluh dan sopan.
  • Hobi catur dikembangkan, katanya siapa tahu bisa ikut club dan kompetisi.
  • Bekerja kembali sebagai tenaga admin atau kurir demi orang tua, dan semakin sabar dan kuat demi orang tua.
  • Bekerja kembali mencari teman – teman yang berbisnis, ntar dia jadi distributor atau mediator penjual by komisi… à buset deh.. saya aja gak nyangka dia bisa begini.. tapi setelah saya kroscek ke ortu, katanya emang iya… wuik..

Syukurlahh.. agak lega setelah lihat hasilnya, meskipun dalam perjalanannya tetepppp bahasa dan cara yang di gunakan merupakan integrasi beberapa teknik.. hehehe..supaya goal “terapi okupasi” tercapai.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s